Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Wednesday, January 8, 2025

Cerita Malam ini

Halo semuanya, maaf ternyata si penulis tidak menepati janjinya untuk selalu bersua di laman ini dikarenakan kesibukannya di dunia nyata. Mohon maklum yah 🙃

Oh iya saya ingin berbagi banyak hal tentang segala yang terjadi pada kehidupanku akhir-akhir ini. Kalian tau gak sih, Allah itu Maha Baik, Maha Penyayang, Maha Penolong, Maha Segala-galanya. Rasanya ucapan syukur dan pujian ini tidak akan cukup menggambarkan betapa Agungnya Pencipta kita Allah Subhana Wa Ta'ala. 

.

.

.

Desember 2024

Di akhir 2024 kemarin, saya bertemu dengan seorang teman yang In Syaa Allah akan segera menjadi teman hidup. Pertemuan kami singkat, tapi terasa berkesan karena membawa kami pada keputusan untuk saling membersamai hingga ajal menjemput (Aamiin). Sampai sebelum semuanya menjadi jelas, sebenarnya raguku sangat banyak. Saya takut kalau ternyata dia datang hanya sebagai ujian tapi seiring berjalannya waktu dan setelah melaksanakan sholat istikharah saya menemukan bahwa In Syaa Allah ini takdir dari Allah dan mari kita sambut takdir itu dengan penuh suka cita. Doakan kami yah semoga sakinah mawaddah warahmah hingga akhir. Saya ingat kalimat yang mengatakan "Bukan karena bertemu lalu berjodoh, tapi karena berjodoh makanya bertemu". Kira² seperti itulah keadaan kami saat ini, 2 orang yang saling asing tapi dipersatukan dalam ikatan yang halal (In Syaa Allah).


.

.

.

Januari 2025

Kabar baik juga datang di awal tahun ini, adik perempuanku yang telah berjuang mati-matian menperjuangkan nasibnya kedepan, yang telah berpasrah diri dan putus asa akan hasil dari usaha yang telah dia lakukan, malah mendapatkan kabar yang tak disangka-sangka. Ketika dirinya sudah pasrah dan ikhlas ternyata keajaiban dari Allah itu datang, apa yang dia usahakan dan impikan kini sudah di depan mata dan siap menjemputnya. Harapanku untuk adikku satu-satunya, jaga dan hargai pencapaianmu hari ini, selalu ingat bahwa Allah swt. yang membawamu pada gerbang itu jadi selalu lah berucap syukur Kepada-Nya. Sekali lagi selamat adekku 😘




Okay sekian untuk cerita malam ini. Kuharap kalian yang membacanya juga akan mendapatkan kebahagiaan dan rezeki yang melebihi dari kami. Stay positif thinking dan jangan lupa bersyukur semuanya!!!

Thursday, August 24, 2023

Sebuah Pengakuan

 Banyak hal yang tak pernah terucap, tenggelam dalam ingatan dan berakhir menjadi kenangan. Kalimat ini kusematkan untuk diriku yang sangat ahli memendam sebuah rasa. Beribu-ribu waktu telah kulalui, namun sampai saat ini aku tak pernah jujur kecuali kepada Tuhanku. 

Aku pun tak mengira bahwa aku mampu memendamnya selama ini, perasaan terhadap seseorang yang tak lekang oleh waktu. Bahkan perasaan itu masih sama kendati diri ini telah ditinggalkan. Terkadang muncul pikiran, jikalau kukatakan saat itu apakah hasilnya akan berbeda ataukah tetap sama??? Akankah yang jauh akan mendekat, akankah yang canggung akan akrab atau malah sebaliknya? Tidak ada yang tahu takdir.

Meskipun demikian, kini aku bersyukur atas apa yang terjadi. Aku selalu teringat kalimat bahwa "Terkadang seseorang datang hanya sebagai pembelajaran" dan yahh kujadikan itu sebagai pengalamanku dan aku tak menyesal pernah menyukai setulus itu.

Sekarang aku telah melepaskan kenangannya agar ia tak lagi mengikat langkahku. 

Terimakasih orang di masa lalu

Sunday, March 5, 2023

I am back

Haloo, sudah sangat lama tak mengunjungi tempat ini. Semuanya masih sama, hanya ada beberapa hal yang mengalami peningkatan frekuensi pengunjung yang tak terlalu signifikan. Okee terlepas dari itu, mulai sekarang si penulis berniat membagikan cerita dan pengalamannya. Hanya sebagai pengingat dikala suatu saat nanti ia mengalami amnesia atau kata org2 lupa ingatan. He...he...he

Nantikan yaa 🙇


Tuesday, June 16, 2020

Story 1


Tiap orang harus punya jendela. Tak harus punya rumah untuk memiliki jendela. Siapapun berhak memiliki jendela. Tidak akan ada orang yang bisa menghentikanmu untuk memiliki satu benda itu.

Mengapa kita memerlukannya? Jendela tentu harus di sebuah rumah? Omong kosong apa ini?

Tidak,, tidak,, aku tidak bermaksud mengatakan jendela yang itu. Tapi yang kumaksud adalah jendela di dalam dirimu.

hmmmm wait a minute!! Hal lucu apa itu???

Yah maksudku, dengan jendela kau bisa liat dunia luar tanpa harus melangkah keluar. Wait!! Aku tidak bermaksud menahanmu di dalam yah. Tapi Maksudnya, ketika engkau menjalin hubungan, berteman, dan sebagainya terkadang kau hanya bisa memperhatikan orang itu dari jauh tanpa harus melangkah maju masuk ke kehidupannya karna tiap orang ada hal yang mereka tidak ingin dicampuri. Dan jendela disini sebagai pengingat bahwa heyyy batasmu sampai disini, kau tidak perlu ikut campur lebih jauh atau itu akan menghancurkan hubungan kalian.

Nahh, gimana udah ngerti kan??

Eits, ada lagi.....
Taukan jendela biasanya kita buka pada saat menjelang malam. Menandakan waktunya istrahat, angin malam tak baik untuk kesehatan. Nah ini tuh diibarakatkan kamu yang sedang tidak ingin diganggu oleh orang luar. Kebanyakan dari orang-orang pasti memiliki masa ketika dia ingin benar-benar sendiri tanpa ingin ada kebisingan dari luar yang mengganggu, ingin ketenangan nahh dengan adanya jendela dalam dirimu yang kau tutup maka orang orang akan sadar dan tahu bahwa kau tak ingin diganggu...



Tunggu,,,, kenapa bukan pintu?? Bukannya pintu lebih baik? Orang bisa masuk dengan leluasa beda dengan jendela? Dan pintu biasanya mengisyaratkan kedatangan dan kepergian seseorang.


*Semua punya fungsi dan ceritanya sendiri, apapun itu mari kita maknai dengan pikiran yang positif.*






Jayapura, 16 Juni 2020

Dibalik Kebungkaman


Dibalik kebungkaman
             Hari yang sangat cerah. Disebuah ruangan yang lumayan besar dan ruangan itu layak untuk disebut kamar, terlihat sebuah pena yang melekat pada jemari simajikannya yang sangat mulus.  Pena itu sedang mempertontonkan tariannya yang begitu gemulai di atas panggung berlantai kertas. Dan tentunya, pena itu tak akan bisa menari tanpa tuntunan dari simajikannya. Kadangkala, pena itu menghentikan aksinya dan mencoba untuk memberikan si kertas ruang untuk bernafas. Dan ada banyak sekali benda berserakan di sekitar gadis yang tengah serius menjajali bukunya dengan pena, seperti penjepit kertas, lem, penggaris, notebook, flashdisk, tas, tissue, cermin, laptop, kertas polio, plaster, kertas HVS, kalkulator, alfalink, novel, buku LKS, stabilo dan juga atlas. Ternyata dia adalah sosok yang berantakan. Entah apa yang ingin dia coba kerjakan sekarang, yang jelas hanya dia dan Tuhan yang tahu. Dia adalah sosok yang pendiam, terlihat dari ketekunannya mencoreti kertas putih itu. Menurut “penelitian asal”, orang yang gemar menulis dan saat menulis ia hanya terfokus pada tulisannya itu maka orang itu pastilah pendiam, yakin 20%. Dia memiliki mata yang berbinar-binar, hidung mancung, bulumata yang lentik, kaki yang jenjang, badan yang ramping, layaknya seperti seorang artis diera 90-an. Dijemarinya melingkar sebuah cincin permata sebagai tanda bahwa ia telah menjadi milik orang lain tetapi belum sah dimata hukum dan agama alias tunangan, gelang mawar dan jam tangan pink dikedua pergelangan tangannya. Rambutnya terurai denga panjang kira-kira sebahu dan warnanya hitam pekat. Ada aroma khas yang sering meruak lubang hidung ketika berada tepat didekatnya yaitu aroma khas shampo yang sering ia gunakan, lidah buaya. Dikedua telinganya tergantung permata putih mungil yang berkilau, bahkan dari kejauhan kilaunya itu dapat mensilaukan mata ketika memandanginya. Aroma mawar putih dan mawar merah juga melekat ditubuhnya. Semua itulah yang menambah keelokan si gadis tersebut.
            Bagi orang yang mengenalnya, sudah menjadi hal biasa dengan tampilan seperti itu. Bahkan itulah yang menjadi salah satu alasan iya dipersunting oleh seorang pangeran dari kerajaan dunia. Tapi tidak pada hari itu, entah mengapa hal-hal yang ia benci kini telah berubah menjadi kesukaannya. Dia benci hal-hal yang berbau bersih-bersih apalagi berbicara tentang kamarnya. Orang yang melihat isi kamarnya pasti akan mengira bahwa telah terjadi gempa. Kamarnya hancur bak kapal pecah. Orang memang akan bertanya-tanya, dia bukanlah dia. Memang membingungkan tetapi itulah dia. Dalam hal fashion, ia tak terkalahkan akan tetapi dalam hal dekorasi kamar ataupun tentang kebersihan kamar, ia selalu menjadi yang terbelakang.
            Tiba-tiba , ia bergeser dari kerjaannya . Lalu berdiri , ia baru tersadar bahwa ia berada dalam sebuah tempat setelah seharian mengerjakan penelitian amburadulnya . Dia sempat menjadi orang pimplang atau mungkin amnesia sementara , atau mungkin juga menjadi orang gila . Entahlah , hanya diri , hati , dan perasaannyalah yang tahu bagaimana keadaannya saat itu . Dia sempat berpikir dirinya , raganya , jiwanya , berada di perpustakaan(178) , kemudian berpikir lagi bahwa dia sedang di parkiran(296) , berubah lagi bahwa dia di secret(179) , berubah lagi bahwa dia lapangan(184) , tapi bukan pikirannya berubah lagi bahwa dia sedang di kantor(180) , bukan lagi tapi di ruang PMR(181) , tapi bukan . Hmmmm,,,, kali ini pasti tebakannya benar . Setelah dilakukan pengamatan dengan menggunakan metode interview , pertanyaan dengan pola 5W + 1H , ternyata ia berada di kelas(174) kotor impiannya . Dia baru tersadar saat ia memerhatikan sekelilingnya . Ada meja(13) dan istrinya ibu kursi(14) , papan tulis(8) dengan istri dan anaknya spidol(176) dan penghapus(10) , dinding(82) yang dihiasi dengan paku(12) , terminal(5) , mading(7) dengan paku tindis(11) disudut-sudutnya , sertifikat(9) , jam dinding(19) , spanduk(48) , kalender(50) , kabel(52) , bingkai foto(54) , piagam(61) , roster(75) , lukisan(108) gunung merapi , saklar(141) , kilometer(142) , bohlam(154) , gabus(172) , bel(196) , dan poster(198) . Jendela(63) dengan kaca(62) dan horden(25)nya yang bewarna hijau , palpon(60) , seng(36) , dan atap(94) , yang selalu setia bertahan demi melindungi benda hidup dan benda mati , pintu(95) dengan ensel-ensel(230) tua dan gembok(103) rusaknya , kaligrafi(262) yang tergantung dengan bantuan tali(159) dan diatas perpaduan pasir(182) , semen(183) , batu merah(3) , batu bata(37) , kerikil(38) , air(128), besi(153) , dan kayu(160) , ditutupi dengan warna indah dari cat(204) dan coretan-coretan kecil dari kuas(206) yang menghasilkan warna yang sempurna , taplak meja(287) hijau yang menjadi busana trendi masa itu , tegel(67) yang pecah-pecah akibat injakan benda hidup yang tak pandang bulu , sapu(6) , skop sampah(33) , tempat sampah(81) , plastik(90) , puntun-puntun rokok(99) isapan sipenggila keharaman diatas asbak(100) , tinta pulpen(117) yang tak bernyawa lagi , jurnal(143) , kaset(205) bekas , kapas(257) , botol(279) bekas , kawat(300) , ranting(299) , daun(298) , karet(286) , piala(269) yang tak dihargai lagi dan patung(288) hancur yang berserakan dimana-mana , tumpukan perkakas seperti : palu(241) , gergaji(242) , pahat(243) , ketan(245) , sound system(276) , katrol(260) , meteran(280) , cangkul(282) , pipa(283) dan moleng(281) yang dipenuhi dengan debu(186) membuat mata kesakitan , meringis-ringis melihat pemandangan yangtak enak itu .
            Selang beberapa menit kemudian , dia berjalan keluar sambil memegangi jerawat(256) kecil yang ditutupi dengan handiplas(2580 bergambar diwajahnya . Saat langkah 15 kali , 16 kali , 17 kali , 18 kali ,19 kali , 20 kali , dia terhenti . Wajahnya berubah saat dia mencium bau tak sedap dari selokan(130) samping kelasnya . Tiba-tiba secercak air membasahi pipi(47)nya yang sudah diolesi pewarna buatan . Dia pun berlari mencari tempat berteduh . Sesampai ditempat tersebut  dia memandangi langit(124) yang terbentang luas diangkasa dengan tempelan-tempelan kecil bewarna putih yaitu awan(125) dan matahari(126) yang hampir redup dikarenakan cuaca hari itu  . Dan pandangan terakhirnya waktu itu adalah gunung(127) kecil yang terbentang di depannya yang pernah menjadi tempat impian terindah bersama sahabat-sahabatnya sewaktu kecil dulu . Lagi-lagi pikirannya tertuju pada kenangan pahit yang mengubahnya menjadi orang aneh . Dengan cepat ia mengarahkan pandangannya kearah yang lebih luas . Dilihatnya siswa berlarian meninggalkan aktivitasnya saat itu karena takut baju putih abu-abunya , baju olahraganya akan kebasahan . Sepertinya ada kilat yang tiba-tiba menyambar otaknya sampai koslet sehingga dia mengeluarkan pertanyaan bodoh yang belum pernah ada sebelumnya . Mengapa ???????????????? mengapa bendera merah putih(4) , net volly(43) , tiang volly(44) , bola volly(45) , bola takraw(46) , bambu(53) , tiang takraw(55) , net takraw(56) , tower(57) , parabola(64) , tanah(68) , pagar bambu(97) , tangga(111) , tiang bendera(135) , ban motor(144) bekas , gerobak(199) , drum(207) , jalanan(222) , antena(232) , trotoar(264) , pos satpam(265) , jemuran(270) , kaca spion(278) , dan kubah(297) tidak ikut berlari seperti mereka mencari tempat berteduh dan mengapa pula ayam(26) , anjing(27) , burung(51) , dan kambing((1850 harus ikut berteduh ??????????? . Tapi pertanyaan bodoh itu langsung lenyap dikarenakan jawaban pasti bahwa “ hanya tuhan yang tahu itu “ . Setelah hujan redah ia meninggalkan tempat itu sambil memerhatikan rumput-rumput(39) yang basah . Dia berjalan melewati laboratarium(96) , ketika sosoknya hampir tak terlihat lagi tiba-tiba langkahnya terhenti di persimpangan penasarannya . Pandangan beralih kesosok yang sepertinya ia kenal , sosok itu sedang asyik membuat penemuan baru dari campuran larutan obat nyamuk(249) , korek api(248) , dan sunlight(190) didalam gelas kimia(197) . Entah larutan apa yang akan ia ciptakan . Mungkin larutan untuk membunuh si cewek aneh itu , ataukah larutan penghilang ingatan , atau entahlah . Karena dirinya sudah lelah melototi si ilmuan bajakan ia pun segera menghilang . Dia berlari-lari kecil sambil tertawa . Hari itu dia sangat aneh kadang tersenyum , cemberut , menangis , seperti orang gila . Kakinya terhenti tepat didepan wc(173) . Dilihatnya ember(208) yang kumuh , baskom(209) dan gayung(210) yang tak layak pakai , bak mandi(261) yang dipenuhi tumbuhan lumut , dan klosek(193) yang bewarna kuning kecokelat-cokelatan . Wajahnya tampak sangat lucu , sangat jelas bahwa saat itu dia ingin muntah . Jadi sebelum isi perutnya keluar semua , ia pun segera meninggalkan tempat yang menyeramkan itu dibanding rumah hantu . Dia beralih ke pondok peristrahatan guru-guru . Tempat itu dipenuhi microphone(116) , micron(118) , LCD(138) , telivisi(119) , kulkas(120) , dan sofa(121) . Penciumannya yang tajam mengalihkan pandangannya kesebuah pertunjukan tragis . Pertunjukan antara siwajang(133) dan spatula(134) diatas kompor(140) , pisau(187) yang sangat sadis tampa pandang sakit atau tidaknya mencincang-cincang sibawang putih(169) , bawang merah(168) dan sicabai(167) . Tapi pertunjukan itu malah membuatnya sangat gembira . pak satpam tiba-tiba muncul dihadapannya dengan bulu kumis(162) khasnya dan kopiah(91) hitam . Dia hanya tersenyum kepada pak satpam seakan-akan semuanya akan lenyap . Pak satpam hanya ternganga heran dan dalam hati kecil pak satpam berkata “ ada apa dengan anak itu “ . Saat pak satpam ingin bertanya padanya ternyata dia telah menghilang . Kini langkah berikutnya , entah langkah kesekian kali dan mungkin juga itu adalah langkah terakhirnya yang tertuju pada masjid(59) sekolah . Dengan penuh keyakinan , dia melangkahkan jejak pertamanya di masjid yang didahului dengan kaki kanannya . Dengan cepat , ia meraih Al-qur’an(156) lalu melangtungkan ayat-ayat yang terdapat didalamnya . Setelah terucap kata “ Shodaqallaahul ‘adzim “ , ia pun meletakkan Al-qur’an ketempat yang suci . Tak lama kemudian , terdengar hempasan nafas yang begitu lega dari sosoknnya . Ternyata itu adalah nafas terakhir yang membawanya kesebuah tempat yang lebih indah . Kini dia telah menjadi orang yang bahagia seutuhnya , tanpa beban pikiran dan rasa penuh penyesalan .

THE END
NAMA              ; RAFICHO RATNA DILLA
NIS                 ; 113193
KELAS              ; XI IPA 3



               

Monday, March 9, 2015

CERPEN PERSAHABATAN



SENYUMAN TERAKHIR UNTUK RAHMI
Pagi yang cerah ditambah dengan kicauan burung menjadikan pagi itu tampak berbeda dari hari sebelumnya. Libur semester kini telah usai, para pelajar pun telah siap bergulat dengan berbagai masalah di sekolahan. Siswa-siswi pun sangat antusias menyambut hari yang dinantikan itu.
Bel berbunyi, pertanda gerbang sekolah akan segera ditutup. Siswa-siswi pun berlarian menuju ruangan tempat mereka menimba ilmu. Di koridor sekolah, terlihat seorang gadis dengan langkah yang begitu cepat dan masih merapikan dasi yang tergantung dilehernya. Dia bernama Rahmi. Wajahnya begitu ceria saat itu, mungkin karena dia sudah tidak sabar menyambut kelas baru dan teman barunya. Setiba di kelas, raut wajahnya tiba-tiba berubah bak langit cerah dihantam mendung. Wajar saja, kelas yang dia impikan bak surga firdaus hanyalah sebuah mimpi.  Ternyata kelas itu begitu gelap, beralaskan debu, dengan hiasan dinding bewarna ungu. ”Wah, sepertinya penghuni kelas ini seorang alayers. Hahhaaa!!” ucap Rahmi dalam hati. Selain itu, siswa-siswinya pun kurang menarik. Ada si Surni yang begitu centil, Inar yang manja dan masih banyak yang lainnya. Tetapi ada satu orang yang berbeda diantara mereka. Namanya Fitri, dia sangat pendiam bahkan didepan temannya dia selalu menunduk. Dan itu adalah sebuah pertanda buruk karena pasti dia akan dijadikan bahan olokan di kelas. Setelah lama Rahmi meratapi kemalangannya, dia segera menuju kursi yang dilihatnya kosong. Semua siswa-siswi telah mendapatkan tempatnya masing-masing kecuali Fitri. Yahhh, tidak ada yang ingin berbagi tempat dengan wanita aneh itu. Dengan sedikit terpaksa Rahmi memberikan kesempatan wanita aneh itu untuk berada didekatnya.
Hari-hari sekolah pun berlalu, si Rahmi dan si Fitri tidak menggambarkan adanya kedekatan bagaikan seorang teman. Wajar saja, di kelas tidak ada seorang pun yang ingin berteman dengan Fitri. Seperti yang telah dikatakan, Fitri kini menjadi mainan untuk anak-anak manja. Kerap kali, dia didandani seperti orang gila, di hina bahkan disakiti dengan fisik. Rahmi juga sebenarnya merasa sangat sedih dengan perlakuan temannya yang tidak adil. Setiap hari, mata Fitri selalu sembab dikarenakan air mata yang selalu berjatuhan dari kelopak matanya yang mengurangi keindahan matanya. Dia tidak memiliki keberanian untuk mengadu pada BK karena Fitri selalu di ancam oleh teman-temannya.
Sebulan, dua bulan, dan 3 bulan telah berlalu. Fitri masih bertahan dikelas itu karena dia telah berjanji kepada kedua orangtuanya untuk membahagiakannya. Dan lama kelamaan terlihat kedekatan diantara Rahmi dan Fitri. Kini hari-hari Fitri tidaklah sesuram dengan yang lalu karena setidaknya dia telah memiliki seorang teman yang sangat dia sayangi.
Sampai pada suatu ketika, hari yang sangat panjang bagi Rahmi. Semua siswa-siswi bergegas untuk pulang tetapi tidak untuk kelas xi ipa 3. Ternyata mereka masih ada kelas tambahan. Fitri yang sedang menikmati bekal yang dibuatkan oleh sang ibu tercinta, tiba-tiba dikagetkan oleh sekumpulan geng LBY. Yahh,, geng inilah yang selama ini menjadikan Fitri seakan berada di neraka. Bekal yang isinya nasi putih dan dua potong tahu goreng itu ditumpahkan kelantai dengan sia-sia. Tampak kemarahan yang memuncak di wajah Fitri. Dan selang beberapa menit kemarahan itu tertumpah menjadi air mata. Tanpa berkata-kata, Fitri langsung memunguti bongkahan rezeki yang berada didepan ibu jarinya. Dengan sedikat terisak-isak, dia berusaha menahan rasa sakit yang sudah tidak bisa terbendung lagi. Tiba-tiba, muncul Rahmi dengan raut wajah yang tampak marah. Dia pun segera membantu temannya untuk berdiri.
”Apa yang kamu lakukan?” kata Rahmi.
“Aku harus menghargai apa yang diberikan Tuhan, setiap butir beras ini adalah sebuah berkah.” balas Fitri dengan terisak-isak.
Tiba-tiba, Surni memotong pembicaraan “Sebutir nasi dari anak seorang pembunuh... hahhhaa!! Fitri kamu tidak pantas berada di kelas ini, kamu pantasnya berada di rumah. Apakah kamu tidak malu menjadi anak pembunuh?” kata Surni dengan nada yang sedikit tinggi.
Rahmi yang baru tahu akan hal itu sangat terkejut. Selama ini, dia sudah sangat akrab dengan Fitri tetapi sayang dia belum mengetahui banyak tentang temannya itu. Rahmi begitu sangat marah. Seakan-akan dia ingin membunuh siapa saja yang ada di depannya.
“Mengapa kamu tidak pernah mengatakan itu kepada saya Fitri? Mengapa?” ucap Rahmi dengan raut wajah yang sangat kecewa.
“Dia hanya ingin memanfaatkanmu selama ini Rahmi, karena dia tidak memiliki seorang teman.” Kata Surni dengan tawanya yang begitu senang melihat Fitri yang hanya bisa diam.
Sedangkan Fitri hanya tertunduk dengan linangan air mata. Rahmi yang sangat kecewa pergi meninggalkan ruangan itu. Disusul dengan Fitri yang ingin menjelaskan semuanya. Ada 2 ekspresi yang ditampakkan Rahmi saat itu yaitu takut dan kecewa. Takut karena berteman dengan anak pembunuh dan kecewa karena telah dibohongi.
Di depan gerbang sekolah, langkah Rahmi terhenti begitupu dengan langkah Fitri.
“Maafkan aku teman, aku tidak bermaksud membohongimu.” Fitri yang berusaha menjelaskan kesalahpahaman.
“Jangan pernah kau memanggilku dengan sebutan teman, karena aku bukanlah temanmu. Aku tidak akan mau berteman dengan seorang pembohong. Kau selama ini yang selalu berkata kepadaku bahwa tidak boleh ada kebohongan diantara kita. Tetapi apa yang kamu lakukan? Dan satu hal lagi,,, aku tidak ingin memiliki teman dengan ayahnya adalah pembunuh.” ucap Rahmi dengan nada keras.
“Yah.,, kamu benar aku mengingkari janji kita. Tetapi itu semua karena aku tidak ingin kehilangan teman sepertimu. Aku sayang sama kamu. Kamu adalah sahabat yang dikirimkan Tuhan untuk menemani hari-hariku.” Balas Fitri dengan terisak-isak.
“Diam Fitri. Aku tidak ingin berteman denganmu. Kamu adalah anak seorang pembunuh. Dan jangan dekat-dekat dengannku.” ucap Rahmi dengan penuh kesal.
Fitri hanya bisa menangis dan menangis. “Yah,, dia adalah seorang pembunuh. Dia orang tua yang menafkahiku. Walaupun dia adalah pembunuh tetapi aku tetap menyayanginya. Aku tidak pernah malu memiliki ayah sepertinya. Aku tidak seberuntung yang lainnya memiliki keluarga dengan ekonomi atas. Aku anak biasa yang setiap harinya hanya bisa meminta kepada-Nya. Lalu apakah salah ketika aku ingin memiliki seorang teman?” kata Fitri.
Rahmi yang masih marah itu, langsung meninggalkan Fitri. Tadinya dia ingin menyeberang ke kios yang berada di depan sekolahnya. Tetapi sebuah truk besar dengan kecepatan 120 km/jam melintas. Dengan sigap, Fitri hendak menolong temannya itu. Tetapi Tuhan merencanakan yang lain. Ternyata Fitrilah yang tertabrak sedangkan Rahmi terlempar ketepi jalan. Darah tersimbah sangat deras di kepala Fitri. Rahmi dengan cepat mencari siapa yang telah menyelamatkan nyawanya. Dan dia pun melihat sesosok perempuan dengan senyum diwajah tergeletak tak berdaya. Darah dimana-mana. Rahmi sempat pusing tetapi dia berusaha menahan itu demi seorang sahabatnya.
Air dari kelopak mata rahmi terjatuh seperti sebuah hujan deras. Dia hanya bisa menopang kepala sahabatnya itu yang berlumuran darah. Dia tidak mampu menahan air matanya. Tangan mungil tiba-tiba mengusap air mata itu.
“Mengapa kau menyelamatkanku. Seharusnya aku yang berbaring disini bukan kau. Aku telah mengata-ngataimu. Bahkan aku tidak menganggapmu sebagai temanku.” kata Rahmi dengan nada terisak-isak.
“Itu karena kau adalah sahabatku dan selamanya akan menjadi sahabtku. Dan kamu tidak perlu menangisiku teman, aku tidak ingin melihat ini. Inilah alasan mengapa aku tidak ingin mengatakan semuanya. Air mata ini cukup aku yang memilikinya. Kecantiakanmu akan luntur sahabatku. Tetaplah tersenyum. Kau satu-satunya sahabatku dan aku ingin melihat senyum itu untuk yang terakhir kalinya.” Kata Fitri dengan suara yang sedikit parau.
Tangisan rahmi semakin deras setelah mendengarkan kata-kata itu. “Kalau begitu kau tidak boleh meninggalkanku. Apakah kau tidak ingat ketika di pekarangan sekolah? Kau berjanji akan selalu menemaniku. Kau akan selalu ada untukku. Kau adalah sahabatku. Kau harus tetap hidup. Bersamaku kita habiskan hari-hari sekolah dengan ide-ide aneh kita.” Ucap Rahmi yang sangat terpukul.
“Ingat teman, senyuman itu harus tetap ada. Aku tidak akan pergi jauh. Aku akan selalu ada didekatmu menemanimu dan menjagamu. Satu pesanku : kumohon tetaplah tersenyum meskipun aku telah tiada. Sahabatku!!.” ucap Fitri dibarengi hembusan nafas yang begitu panjang. Yahh,,itu adalah nafas terakhir si Fitri. Teriakan Rahmi pun semakin menjadi-jadi melihat temannya tak bernyawa lagi. Selain itu, banyak penyesalan dalam hati Rahmi. Dia menyesal telah menyia-nyiakan sahabatnya.
Semua orangpun berlarian melihat kejadian itu. Seminggu telah berlalu. Terlihat Rahmi masih terpukul dengan kejadian tersebut yang telah memisahkannya dengan sahabatnya yang sangat berharga. Rahmi yang melamun di kursinya, tiba-tiba dikejutkan oleh sesosok perempuan yang tidak asing yaitu Fitri sahabatnya. Sosok itu berusaha tersenyum kepada rahmi. Dan tanpa disadari air mata Rahmi berjatuhan seiring menghilangnya sosok itu. Dia teringat akan pesan sahabatnya untuk selalu tersenyum. Dan sejak saat itu, Rahmi terlihat lebih baik. Harinya selalu dihiasi dengan senyuman. Dan dia telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak akan menyia-nyiakan orang yang menyayanginya.
THE END

fichoPGSD: CERITA CINTA YANG MENGHARUKAN

fichoPGSD: CERITA CINTA YANG MENGHARUKAN: KUTATA RAPI HANYA UNTUKMU Tintong... tintong... tintong. Terdengar bunyi bel rumah yang bewarna coklat cerah itu. Tampak seorang lela...

CERITA CINTA YANG MENGHARUKAN



KUTATA RAPI HANYA UNTUKMU
Tintong... tintong... tintong. Terdengar bunyi bel rumah yang bewarna coklat cerah itu. Tampak seorang lelaki berperawakan tinggi, putih mirip Aliando Syarief. Saat itu, jam masih menunjukkan pukul 05.00. Dari balik pintu yang bercat coklat tua itu, keluar seorang wanita dengan yang kurang lebih tingginya sebahu dari sang cowok. Dia begitu manis ditambah dengan senyuman diwajahnya. Wanita itu hampir mirip dengan Prilly Latuconsina. Dari pakaian yang mereka gunakan, terlihat jelas bahwa subuh itu mereka akan jogging. Mereka adalah Suci dan Afiq. Suci dengan cepat menutup pintunya dan bergegas untuk berangkat jogging.
Udara pagi itu memang sangat segar, sehingga tak hanya mereka yang ingin menikmati oksigen yang langka itu. Ada banyak yang juga jogging seperti mereka. Setelah jam menunjukkan pukul 06.00, Afiq dan Suci pun kembali kerumah mereka. Afiq mengantar Suci terlebih dahulu karena dia ingin memastikan sahabatnya tiba di rumah dengan selamat. Yahh, Afiq dan Suci telah lama berteman. Sejak mereka bertemu di taman bunga. Saat itu umur Afiq 7 tahun dan Suci 6 tahun. Sejak pertemuan itulah mereka sering bermain bersama sampai sekarang. Orang tua mereka pun begitu akrab karena Ayah Suci dan Ayah Afiq juga dulunya sahabat karib dan itu sampai sekarang.
Setiba di rumah masing-masing, mereka pun bergegas untuk mandi lalu siap-siap untuk kuliah pertama mereka dan sarapan. Setelah semuanya selesai, Suci pun berpamitan kepada kedua orang tuanya. Di depan rumah Suci tampak sebuah mobil Avansa bewarna hitam. Ternyata itu adalah Afiq yang sedari tadi menantikan sahabatnya. Dengan cepat Suci masuk kedalam mobil. Selama perjalanan mereka terlibat pembicaraan yang tidak begitu penting, yahh sebagai selingan kebosanan juga sihh. Afiq yang menikmati perjalanan menuju kampus mereka, tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Dadanya terasa sesak, nafas memburu begitu cepat. Suara dag dig dug itu kini semakin cepat. Baru pertama kali dia merasakan hal itu. Dag dig dug itu semakin cepat diiringi dengan senyuman manis dari Suci. Suci yang sedari tadi bingung memecahkan keheningan. Dia angkat bicara.
“Ada apa denganmu Fiq? Apa kau baik-baik saja?” tanya Suci yang kebingungan.
“Ahh.. tii.. tidakk. Aku baik-baik saja.” Jawab Afiq.
“Tetapi mengapa kau tampak gugup?” tanya Suci lagi.
“Itu.. itu karena aku sedikit gugup untuh kuliah pertama ini.” Jawab Afiq yang berusaha menghindar dari pertanyaan Suci.
Suci yang merasa sudah puas dengan jawaban Afiq pun langsung menghentikan pembicaraan.
Setiba di kampus mereka berpisah. Karena mereka beda jurusan. Suci dengan cepat dia telah akrab dengan teman sekelasnya. Itu karena memang dia orangnya mudah bergaul dengan siapa saja. Sedangkan Afiq hanya tampak akrab dengan beberapa orang saja. Afiq memang sedikit cuek.
Kini langit sudah sedikit gelap. Yahh sudah sore hari. Afiq dan Suci pun bergegas untuk kembali kerumah masing-masing. Seperti biasa, Afiq selalu setia mengantar temannya itu. Di perjalanan tampaknya Suci sangat senang. Itu terlihat jelas dari wajah Suci yang berseri-seri. Afiq yang penasaran pun membuka pembicaraan.
“Hey suci.. ada apa denganmu? Kamu tak seperti biasanya.” tanya Afiq heran.
“Aku?? Ini adalah hari yang sangat indah. Dia sangat tampan, dia menjabat tanganku dan menatapku seperti dia menatap gadis yang dicintainya.” Jawab Suci sambil senyam-senyum.
“Maksudmu? Mengapa kau tiba-tiba sok puitis begini?” tanya Afiq yang semakin heran dengan tingkah temannya itu.
“Yahh,, namanya kak wandi. Dia sangat baik.” Jawab Suci yang mencoba menjawab pertanyaan Afiq.
Walaupun masih heran, tetapi Afiq mencoba menghentikan pembicaraan karena dia tahu ketika dia banyak bicara maka sahabatnya ini akan semakin menjadi-jadi juga.
Setiba dirumah, suci pun keluar dari mobil dan bergegas untuk masuk kerumahnya yang diiringi dengan mobil Afiq yang berlaju sedikit cepat meninggalkan Suci.
Sebulan telah berlalu. Kehidupan kampus masih sama dengan sebelumnya. Yang berbeda hanyalah Suci yang tampak sangat ceria tiap harinya. Di taman kampus, Suci menghampiri sahabatnya Afiq. Dan Afiq menyambut Suci dengan senyuman pula seakan-akan dia baru bertemu dengan Suci padahal setiap harinya mereka selalu bersama-sama. Suci dengan senang menceritakan beberapa hal ke Afiq. Dan ada satu hal yang dikatakan Suci yang membuat Afiq sadar bahwa ternyata selama ini perasaan gugup itu adalah sebuah cinta. Dia tersadar seketika setelah Suci mengatakan bahwa hari itu dia resmi jadian dengan kak Wandi. Sungguh, hati Afiq sangat terpukul. Dia seperti terbang tinggi tapi tiba-tiba terjatuh hanya karena berita itu. Afiq hanya berusaha tersenyum menyembunyikan kecemburuannya demi membahagiakan sahabatnya.
5 tahun telah berlalu setelah kejadian itu. Dan Afiq masih tetap menyembunyikan perasaannya. Dia hanya bisa menata rapi ruang hatinya untuk Suci. Mereka berdua telah memiliki keluarga masing-masing. Suci menikah dengan kak Wandi. Sedangkan Afiq dijodohkan oleh orang tuanya. Afiq memiliki seorang anak perempuan dan diberi nama Suci Apriliani. Meskipun mereka telah berkeluarga tetapi mereka selalu bertemu karena bagi suci persahabatan itu adalah seumur hidup. Tetapi sayang, Afiq dilanda musibah. Istrinya meninggal setelah divonis oleh dokter bahwa dia kanker rahim. Kini Afiq hanya bisa menghabiskan hari-harinya dengan bidadari kecilnya “Suci Apriliani”. Suci yang mendengar kabar itu, selalu menyempatkan waktu untuk menghibur sahabatnya.
Tepat tanggal 28 oktobrer, tanggal dimana Afiq pertama kali bertemu dengan Suci. Itu adalah hari yang sangat dinantikan oleh Afiq karena biasanya mereka merayakan hari itu. Afiq menitipkan anaknya ke Ibunya dan dia segera berangkat menuju rumah Suci. Tampak rumah Suci begitu sepi. Afiq yang penasaran langsung menanyakan keberadaan si tuan rumah kepada tetangga Suci. Kata tetangga itu, Suci sudah lama tidak terlihat di rumah itu, dia hanya sering melihat suami Suci yang selalu pulang pergi. Dan setelah beberapa lama mencari tahu, dia pun mendapatkan jawabannya. Ternyata Suci sudah lama terbaring di RS. Dengan cepat Afiq mengendarai mobilnya menuju RS. Setiba di RS, dia melihat Wandi yang tampak sedih diluar pintu sebuah ruangan ICU. Afiq pun segera menghampiri Wandi dan menanyakan apa yang terjadi. Wandi menjelaskan semuanya. Suci mengidap kanker hati stadium 4. Tentu, Afiq sangat terpukul mendengar hal itu. Dan ditambah dengan penjelasan dokter bahwa tidak ada yang cocok untuk menggantikan hati Suci dan diperkirakan Suci hanya bisa bertahan 3 hari lagi. Tanpa pikir panjang, Afiq menemui dokter. Dia bermaksud untuk mendonorkan hatinya kepada wanita yang sangat dicintainya itu. Selama ini, dia tidak pernah melihat sahabatnya merasakan sakit. Dan dia tidak ingin sahabat yang dicintainya itu menderita. Setelah dicek, ternyata hati Afiq cocok dengan hati Suci. Awalnya Wandi melarang Afiq untuk menyerahkan hidupnya kepada istrinya. Tetapi sayang, Wandi tidak dapat menghentikan pengorbanan Afiq yang tulus karena cinta. Operasi berlangsung kurang lebih 3 jam. Dan operasinya berjalan sukses. Kini Suci telah memiliki hati yang baru. Hati yang tulus dari sahabatnya. Sedangkan Afiq hanya bisa bertahan 1 jam setelah operasi. Sebelum dia meninggal, dia sempat memberikan sepucuk surat kepada Wandi untuk disampaikan kepada Suci.
Setelah Suci siuman, Wandi pun mengecup kening istrinya dengan sangat bahagia. Suci yang penasaran dengan pendonor hati itu mencoba menanyakan kesuaminya dengan wajah yang penuh tanya. Wandi yang tidak sanggup menahan sedihnya hanya bisa memberikan Suci sepucuk surat. Sepucuk surat dari Afiq. Dengan sekuat tenaga, Suci berusaha membuka surat itu dan membaca kata perkatanya.
“Dear Suci, sahabatku dan cinta sejatiku.
Apa kabar sahabat kecilku? Kamu ingat tanggal ini tanggal berapa? Yahh tanggal 28 oktober, hari dimana kita bertemu di taman bunga untuk pertama kalinya. Aku sudah lama menyembunyikan perasaanku kepadamu. Sejak saat itu, ketika kau curhat kepadaku bahwa kau telah jadian dengan Wandi aku merasa sangat sedih. Aku tersadar bahwa saat itu aku sangat mencintaimu. Aku sangat sakit mendengarnya tapi aku juga ingin melihatmu bahagia. Kurelakan kau hidup dengan orang yang kau sayangi. Hingga setelah kita memiliki keluarga masing-masing aku masih tetap menata rapi hatiku untuk diisi oleh bayangmu. Yahh, aku hanya bisa mengisi hatiku dengan bayangmu karena kusadar bahwa aku tidak akan bisa memilikimu. Kuberi nama anakku “Suci Apriliani” untuk menggantikan kehadiranmu. Setidaknya aku memiliki Suci kecil yang selalu membuatku tersenyum. Yah,, hati itu kini berada didalam dirimu. Aku ingin kau menjaganya seperti aku yang selalu menjaga hati itu. Aku bahagia telah memberikan hatiku kepadamu karena hati itu memang telah kutata untuk kuberikan padamu. Satu hal lagi kumohon jagalah Suci kecilku. Kumohon jaga dia seperti kau menjaga dirimu sendiri.
Suci sahabatku, setelah kau membaca surat ini maka aku telah jauh. Aku telah berada disuatu tempat. Aku membawa hatimu dan aku akan hidup dengan cintamu ditempatku. Jangan tangisi kepergianku karena aku tidak pernah ingin melihatmu menangis. Terimakasih telah bersedia menjadi sahabatku.
Afiq “
Suci yang terpukul dengan surat itu hanya bisa menangis dan menangis. Ingin rasanya dia berteriak. Tetapi suaminya berusaha menenangkannya. Hari itu, Suci baru tersadar bahwa dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Afiq. Kini dia rindu dengan wajah sahabatnya. Dia menyesal tidak pernah mendengar cerita-cerita sahabatnya. Selama ini dia hanya sibuk berbagi cerita tanpa ingin mendengar cerita Afiq sendiri. Dia menyesal selama ini tidak pernah menatap dalam inci per inci wajah sahabatnya. Kini dia rindu akan sosok yang selama 20 tahun telah menemani hari sedih dan bahagianya. Cukup lama dia menyesal hingga membuat air matanya telah mengering. Bagaimana tidak seminggu telah berlalu setelah kematian afiq dan dia masih sedih.
Setahun telah berlalu, Suci hidup bahagia dengan hati Afiq dalam dirinya dan ditemani suaminya yang selalu setia. Dan juga ditemani bidadari kecil “Suci Apriliani”. Ditambah kehadiran sang jagoan kecil. Anak pertamanya dengan Wandi yang dia beri nama “Afiq”. Mereka tampak bahagia di taman bunga itu. Bercanda gurau dan bermain. Kebahagiaanya kini telah lengkap dengan keluarga kecilnya.
THE END.